pilihan pendidikan

sains tentang cara memilih jurusan yang tidak akan anda sesali

pilihan pendidikan
I

Pernahkah kita duduk menatap layar komputer, jari telunjuk ragu mengklik tombol pendaftaran universitas, dan merasa seolah seluruh masa depan kita ditentukan detik itu juga? Kita diajarkan satu mantra sejak kecil: "Ikutilah passion-mu, maka kamu tidak akan merasa bekerja sehari pun dalam hidupmu." Kedengarannya sangat puitis. Sangat indah. Tapi mari kita bicara fakta. Berbagai survei global menunjukkan bahwa lebih dari separuh sarjana akhirnya bekerja di bidang yang sama sekali tidak berhubungan dengan jurusan mereka. Lebih parahnya, tidak sedikit yang diam-diam menyesali gelar yang sudah memakan waktu bertahun-tahun dan biaya jutaan rupiah. Kenapa mantra passion tadi justru sering membawa kita ke jurang penyesalan? Sebagai teman berdiskusi, saya ingin mengajak teman-teman membedah ini. Kita tidak akan pakai klenik atau zodiak. Kita akan meminjam pisau bedah ilmu psikologi dan neurosains untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat memilih masa depan.

II

Mari kita mundur sedikit ke lembar sejarah. Ratusan tahun lalu, leluhur kita tidak pernah stres memilih jurusan. Anak seorang pandai besi otomatis akan memegang palu. Anak petani akan turun ke sawah. Pilihan hidup itu sempit, tapi bebas dari kecemasan eksistensial. Hari ini? Kita dihadapkan pada ribuan opsi karir yang bahkan namanya sulit dieja. Otak kita, yang secara evolusioner masih sama dengan otak manusia purba pengumpul buah, mengalami apa yang disebut choice overload atau kelumpuhan memilih. Ditambah lagi, ada satu kelemahan kognitif manusia yang sangat fatal. Dalam psikologi, ini disebut end-of-history illusion. Otak kita sangat payah dalam memprediksi masa depan. Kita selalu berasumsi bahwa diri kita yang sekarang—dengan segala hobi, minat, dan ideologi kita—adalah versi final. Padahal, sains membuktikan bahwa diri kita sepuluh tahun dari sekarang akan menjadi sosok yang punya selera dan prioritas yang sama sekali berbeda. Memilih jurusan mengandalkan "apa yang paling saya sukai di umur 18 tahun" ibarat membuat tato permanen berdasarkan lagu favorit kita saat SMP. Sangat berisiko.

III

Ini membawa kita pada sebuah persimpangan misterius. Kalau minat kita gampang berubah, dan kita payah memprediksi diri kita di masa depan, lalu apa yang harus jadi kompasnya? Apakah kita lempar koin saja? Tentu tidak. Sains punya triknya. Ahli perilaku dan peneliti karir diam-diam telah mengamati ribuan orang yang mengaku sangat puas dengan jalan hidupnya. Mereka mencari pola. Ada satu formula rahasia di otak yang sering kita abaikan karena kita terlalu sibuk mencari "panggilan jiwa" atau passion yang turun dari langit. Teman-teman, kepuasan karir ternyata sama sekali tidak ditentukan oleh apa nama jurusannya. Ada mekanisme psikologis tersembunyi yang membuat seorang akuntan bisa jauh lebih bahagia daripada seorang seniman, dan sebaliknya. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya dicari oleh otak kita agar terhindar dari rasa menyesal?

IV

Jawabannya tersembunyi dalam teori motivasi paling solid di dunia psikologi saat ini: Self-Determination Theory yang digagas oleh Edward Deci dan Richard Ryan. Otak kita sebenarnya tidak peduli apakah ijazah kita bertuliskan Sastra, Teknik, atau Bisnis. Agar tidak menyesal, otak kita hanya menuntut terpenuhinya tiga kebutuhan dasar. Pertama, otonomi (kendali atas waktu dan keputusan kita). Kedua, kompetensi (perasaan bahwa kita jago melakukan sesuatu yang rumit). Ketiga, keterikatan (merasa bahwa apa yang kita lakukan berdampak bagi orang lain). Inilah kebenaran sainsnya: Passion itu tidak ditemukan, melainkan dibangun. Berkat fenomena neuroplasticity, otak kita akan merombak sirkuitnya dan mulai mencintai sebuah bidang ketika kita sudah menjadi ahli di bidang tersebut. Jadi, alih-alih bertanya "Jurusan apa yang gue banget?", ubahlah pertanyaannya menjadi "Jurusan mana yang bisa melatih cara berpikir saya, memberi saya keterampilan yang bisa diadaptasi (transferable skills), dan peluang untuk jadi ahli?" Pilihlah jurusan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai tempat latihan kebugaran untuk otak kita.

V

Jadi, untuk teman-teman yang mungkin sedang kehilangan arah atau masih dihantui keraguan atas pilihan pendidikannya, mari kita tarik napas panjang. Keputusan memilih jurusan memang penting, tapi itu bukan harga mati. Sains membebaskan kita dari beban berat bernama "takdir satu jurusan". Otak kita dirancang luar biasa tangguh untuk terus beradaptasi dan belajar hal baru sepanjang hayat. Kalaupun suatu saat teman-teman merasa salah belok, itu bukan akhir dunia. Setiap pengetahuan yang dipelajari tidak ada yang menguap sia-sia; ia akan menjadi titik-titik yang kelak saling terhubung di masa depan. Pilihlah satu jalan yang masuk akal hari ini, tekuni dengan sungguh-sungguh sampai kita membangun kompetensi, dan biarkan passion tumbuh menyusul dari belakang. Kita tidak sedang menulis pahatan di atas batu nisan, teman-teman. Kita hanya sedang menulis bab pertama dari buku yang halamannya masih sangat panjang.